Cinta Orang-Orang Rumah
Di tahun 2017 sekitar bulan April saya pulang dari kota pahlawan, kurang lebih empat tahun saya hijrah disana untuk belajar bertahan hidup. Selama empat tahun saya tinggal disana bersama saudari sepupu dan keluarganya, begitu banyak hal yang saya dapatkan dan pelajari saat bersama mereka.
Pada tahun 2013 tepatnya di bulan Juli sekitar tanggal 08 saya menginjakan kaki untuk pertama kalinya di kota Surabaya yang lebih di kenal dengan sebutan kota Pahlawan. Sebagai orang baru tentu saja saya tahu menempatkan diri bagaimana harus bersikap. Setelah melewati minggu pertama banyak sekali pikiran yang mencoba mengisi ruang kepala saya, selain karena belum terbiasa tinggal di kamar sepanjang hari, saya juga merasa bosan karena seharian hanya bisa keluar di depan kos lalu balik lagi ke kamar. Selama kurang lebih tiga bulan saya nganggur dan hanya numpang makan dan minum di kos saudari sepupu.
Pada suatu sore saya coba beranikan diri untuk keluar dari kos dengan jalan kaki lewat lorong-lorong kecil di sekitar tempat saya tinggal sekedar untuk belajar gang disekitar. Maklum orang desa banyak bingungnya ketika pertama kali berhijrah di kota besar. Dengan santai saya jalan kaki sambil melirik nama gang dan jalan yang ada di setiap gapura. Malamnya setelah makan, saya tak sungkan pinjam sepeda milik tetangga kos sekedar belajar nama gang yang ada di depan kos. Depan kos saya hampir 20 jam orang masih saja berkeliaran dan nongkrong di warkop sambil ngobrol santai, itu mayoritas karyawan pabrik yang dapat sift malam.
Di depan kos saya mondar- mandir dengan sepeda sambil cari jajan di pinggir jalan. Karena jalannya cukup ramai dan lancar saya sangat hati-hati sekali untuk nyebrang dan saya naik sepeda paling pinggir sekali di jalanan karena saking takutnya. Itu saya jalani kurang lebih dua minggu sambil menjajak kuliner yang ada di pinggir jalan. Hampir setiap malam saya keluar cari gorengan, dan masakan lainya. Itu juga bukan sekedar berkeluyuran tetapi saya pakai waktu itu menggali banyak hal dari pedagang. Bahkan saya tak sungkan menanyakan kepada penjual kisaran hasil jualan mereka semalaman. Ada penjual nasi goreng, penjual buah-buahan, ada yang jual angsle, roti goreng, sate penyetan dan masih banyak lagi.
Dalam setiap obrolan mereka sangat antusias sekali menjawab pertanyaan saya, juga mereka sharing banyak hal. Saya lebih banyak tanya bagaimana mereka memulai usahanya. Banyak dari mereka sebagai karyawan pabrik tapi malam harinya tetap jualan, saya sangat kagum dengan semangat mereka. Sejak itu sampe saya pulang ke Flores, saya masih ingat baik wajah mereka. Satu minggu sebelum saya pulang ke Flores saya sempatkan waktu untuk mengunjungi mereka dan saya sampaikan bahwa saya Minggu ini pulang kampung dan menetap disana. Beberapa dari mereka mencoba membujuk saya agar tetap bertahan disana,. Mas mendingan kamu disini sambil buka usaha, kasian kamu kalau pulang, disana belum tentu kamu cepat dapat kerja. Banyak kok teman saya orang Flores, sampe hari ini masih nganggur disana.
Saya hanya terdiam dan sambil merenung, tapi saya sudah terlanjur resign dari tempat kerja mas. Saya sangat senang kerja disini, tapi saya tidak punya pilihan karena di rumah kedua orang tuaku sudah sangat lansia. Saudara saya sudah pada berkeluarga, sekarang mereka tinggal berdua di rumah. Apapun resikonya dari keputusan yang saya ambil hari ini, saya sudah siap mas. Saya hanya mau Pastikan kedua orang tuaku bahagia dan tetap sehat, apapun pekerjaan saya disana, saya jalani. Apalagi bapak sudah lumpuh, kasian Ibu kerja sendiri. Saya sudah bulatkan tekad saya untuk pulang. Sebaik dan sebahagai apapun saya disini, tetap saja rumah adalah tempat yang nyaman untuk pulang. Sudah cukup saya disini kurang lebih empat tahun 5 bulan, waktunya saya pulang untuk membangun daerah. Saya akan mengambil bagian dari yang terkecil sampai hal yang paling besar apapun itu untuk desa saya. Saya siap dukung dengan harapan lebih baik dan tentunya maju.

Komentar